Thursday, 4 September 2014

LANJUTAN DUNIA LAIN



WALAU ODONG, TETAP SAYANG DONG

Sudah beberapa bulan ini gua menjalani hidup baru dengan seorang kekasih yang baru. Menurut gua dia baik, cantik juga unik. Ada saja tingkahnya yang selalu membuat gua nggak mau pisah darinya. Sampai-sampai, ia selalu pulang malam gara-gara gua yang selalu ingin berlama-lama dengan dia. Gua juga heran, padahal masih banyak kegiatan yang mesti gua lakukan, diantaranya gosok gigi, karena gua belum mandi saat itu. Gua jadi bertanya-tanya, apa ini yang dinamakan cinta?
Hmmmm… gua jadi ingat satu lagu tentang cinta. Nyanyi dulu ya…

Inikah namanya cinta
Oh inikah cinta
Cinta pada jumpa pertama
            Inikah rasanya cinta
            Oh inikah cinta
Terasa bahagia
Saat jumpa
Dengan dirinya…[1]

            Suara gua bagus kan? Kemaren saja, pas reunian SMA gua memberanikan diri buat naik panggung dan menyanyikan satu buah lagu. Dan hasilnya, teman-teman gua meneriaki gua, mereka pun menyuruh gua nyanyi lagi (saking enaknya kali ya suara gua, merdu kaya bebek kehilangan rombongannya). Sehingga satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan, gua jadi terharu. Kayanya mereka mau mendaftarkan gua ke X-Factor. Ya sudah lah, lupakan saja…
            Gua merasa sangat bangga bisa mendapatkan seseorang yang unik seperti dia (hai…), yang selalu membuat gua ingin dekat dengannya. Saat jauh darinya, gua nggak tau mau berbuat apa. Makanya gua mau terus dekat dengannya, tapi gua nggak bisa terus-terusan sama dia. Karena dia pun punya kesibukan lain. Gua hanya bisa bilang, “Miss you…”
            Namun ada satu kalimat yang keluar dari bibir manisnya, yang membuat gua nggak bisa komentar apa-apa. “Yang namanya pacaran kan, kalau nggak jodoh ya putus,” katanya saat di taman anak-anak. Gua heran, mengapa dia mengeluarkan kalimat itu! Padahal gua nggak berpikir pacaran itu ujung-ujungnya hanya buat putus. Gua hanya ingin meyakinkan dalam hati dengan berkata, “Kamulah yang aku cari.”
            Memang, perkataannya nggak salah, malahan bisa dibilang benar. Banyak orang yang pacaran ujung-ujungnya putus. Mungkin karena mereka nggak menemukan kecocokan, atau mungkin juga karena pasangannya nggak bisa melengkapi kekurangan atau kelebihan pasangannya.
            Gua pun pernah menjadi korban dari kelebihan gua saat masih SMA. Gini-gini juga, gua pernah SMA loh, haha… Saat itu, dia mempermasalahkan kebiasaan gua yang hobi sepak bola. Gua juga tau, jarang-jarang cewe suka bola yang ada kan cewe itu suka sama gua, hehe... Maka darinya gua bilang “Bedakan hobi dengan hubungan kita. Kamu juga hobi makan sampah, aku nggak masalahin ko!” Namun apa boleh buat, gua putus karena hobi gua itu, “Pilih bola, atau pilih aku!?” tanyanya dengan geram sama gua.
            Gua langsung terheran-heran dan banyak pertanyaan yang timbul dalam diri gua, “Cewe tuh kaya gini ya!?” Tanya gua dalam hati sambil makan kerupuk udang. “Kenapa kaya gini ya!?” Tanya gua lagi sambil makan plastik bekas kerupuk udang. “Ko mau-maunya disamain sama bola. Mendingan udahan aja dech…” pikir gua sambil nelen plastik kerupuk udang dan gua pun langsung dilarikan ke bengkel terdekat.
            Akhirnya, saat itu juga gua bilang sama dia, gua nggak mau kalau hobi gua diganggu. “Tapi jangan putus ya…” pinta gua sama dia. “Kalo kamu tetap pilih hobi kamu, mendingan kita putus!” jawab dia dengan muka kaya Hulk. Gua nggak tau harus berbuat apa lagi, dan nggak perlu pikir panjang lagi sebenarnya, gua pun menandatangani SK (surat keputusan) tersebut. Karena kalau gua masih tetap bertahan sama dia, gua bakal terkekang kaya kangkung di pasar yang diiket, alias nggak bebas.
            Gua juga mulai diherankan dengan keadaan saat gua menyetujui SK, “Ko kamu pengen putus sih…” dia bertanya sama gua dengan nada mellow yang sebenarnya memohon untuk nggak putus. Gua langsung manggil ambulan dan dirawat di UGD terjauh. Gua semakin bingung, “Cewe ko kaya gini ya!” pikir gua. “Apa cewe semuanya kaya gitu!?” pikir gua lagi sambil mepersiapkan tali buat gantung diri. Tapi itu masa lalu, biarlah...
            Sekarang, gua nggak menemukan hal seperti itu tuh. Makanya gua yakin, dia adalah pilihan yang tepat buat gua. Cuma satu yang bikin gua kesel, nggak kesel juga sih, cuma aneh doang. Kadang-kadang dia tuh suka odong (Peace… hehe…). Contohnya saja, saat dia mau pulang dari kampus, gua bilang, “Hati-hati di jalan, kalo udah nyampe BBM ya, atau SMS,” saran gua. “I LOVE YOU,” sambung gua sambil menutup percakapan saat itu. “I LOVE YOU TOO” jawabnya sambil menyalakan motor hitamnya. Berangkatlah dia dengan meninggalkan kesan yang begitu indah.
Sekitar satu jam kemudian, BBM gua meneriakan suaranya. Pas gua lihat, ternyata dari dia dan di sana tertuliskan “BBM.” Gua bingung, kenapa dia menulis kaya gitu. Gua pun membalasnya dengan kebingungan gua, “Maksudnya!?”. “Udah nyampe rumah” jawab dia, “Kan tadi katanya suruh BBM kalo udah nyampe” sambung dia.
“Hmmmmmm…” gua coba menarik napas, dan gua langsung lari dengan tergesa-gesa mencari pohon kelapa, terus manjat kaya kera sakti dan terjun dengan kepala dibawah. “Odong banget sih kamu!” kesal gua ketika itu. Tapi apa daya dan upaya, harap maklum saja lah, namanya juga Sandi Mustika. Mungkin kepalanya kejedot tiang listrik terus otaknya geser dikit kali, makanya kaya gitu.
Dan sekali lagi, gua menemukan satu kelebihan dia. Walau pun odong, gua tetap sayang ko. Karena keodongannya itulah, sepertinya gua nggak mau jauh dari dia. Makanya, gua selalu meluangkan waktu buat dia, supaya gimana caranya bisa ketemuan walau gua sedang sibuk menguras lautan yang ada di kamar mandi, alias bak mandi. I love You honey…


[1] ME – Inikah Cinta

Friday, 22 August 2014

LANJUTAN DUNIA LAIN



BARANG ANTIK

Gua nggak tau komposisinya apa saja, mungkin gula, garam dan lain-lain. Mungkin juga nikotin, tar dan sebagainya. Dan gua juga nggak mau tau pabrik mana yang memproduksi barang ini, karena nggak ada nama pabrikan disananya. Gua hanya tau, dibalik sapu tangan ini ada satu cerita unik tentang si dia yang selalu saja nge-se-lin. Sapu tangan ini adalah hadiah dari pesta pernikahan teman si dia. Gua juga tau, pernikahan temannya itu dimana, kapan dan bagaimana. Bahkan gua juga tau, baju apa yang si dia pakai saat ke pernikahan temannya itu. Karena gua adalah orang yang nganter si dia ke pesta pernikahannya. Jadi gua tau dimana tempat pernikahan itu berlangsung.
Saat di pesta pernikahan teman si dia, gua nggak mabuk K-Pop sama sekali, walau pun teman si dia suka K-Pop, yang ada gua dimabuk dangdut. Karena disana hiburannya dangdutan, masuk akal kan kalau gua nggak mabuk K-Pop? Hehehe… Si dia malah diam saja coba! Ketika gua muntah-muntah dengar lagu dangdut. Ternyata si dia bukan diam karena nggak suka lagu dangdut, si dia terdiam sedang meresapi lagu dangdut. Gila, lagu dangdut dijadikan lagu buat yoga sama si dia. Nggak kebayang, tapi kenyataan. Antara ada dan tiada ini mah.
Sebenarnya, gua muntah-muntah bukan karena lagu dangdutnya juga sih, tapi karena gua duduk pas banget di depan sound-nya. Kuping gua kaya yang mau meledak, mendingan ikut perang di Gaza kayanya, ketimbang harus duduk tepat di depan sound yang lagi dangdutan. Walau pun itu hanya duduk manis dan menikmati hidangan yang ada.
Setelah gua terus memerhatikan si dia, ada satu hal yang aneh lagi. Kedua ibu jari kakinya turun-naik-turun-naik, kaya kaki si amang tukang becak yang lagi ngayuh becaknya. Ternyata ada saja buat orang mengekspresikan kesukaannya dengan bagaimana pun keadaannya, termasuk si dia. Gua hanya maklum saja, gua nggak berhak melarang si dia. Walau pun si dia pacar gua, tapi tetap dia punya kesibukan sendiri, termasuk dengan ibu jari kakinya tadi. Hehe… Ya sudah lah, kita lupakan saja tentang itu, karena gua bukan mau cerita tentang hal tersebut.
Ketika perjalanan pulang, gua lupa, hadiah sapu tangan itu si dia simpan di tas gua dan gua langsung pulang. Berarti, si dia lupa juga kalau hadiah pesta pernikahan temannya itu sama gua! Setelah beberapa hari kemudian, gua baru ingat hadiah si dia ada sama gua. Itu pun setelah gua buka tas dan menemukan sebuah sapu tangan berwerna hijau yang masih dibungkus rapih dengan kotak plastiknya dan bertalikan pita berwarna merah.
Saat ketemuan sama si dia di kampus tercinta, dimana saat itu kampus inilah yang menjadi saksi bisu bertemunya antara gua dengan si dia. Eh dia malah nggak mau nerima sapu tangan hijau itu, dan si dia bilang, “Buat kaka aja,” katanya sambil tersenyum pahit kaya nyeduh kopi tapi nggak pake gula. Nggak apa-apa ko tersenyum kaya gitu, supaya gua nggak kena diabetes. Hehehe… Habisnya dia udah manis sih.

“Ko buat kaka sayang? Ini kan yang kamu,” balas gua bingung.
“Ya udah nggak apa-apa, buat kaka aja,” tegas si dia.

Gua terima saja daripada ngomel-ngomel lagi, malu banyak orang. Lagian siapa tau sapu tangan ini bakal manfaat sewaktu-waktu. Manusia kan nggak ada yang tau, kapan suatu barang diperlukan. Bahkan, barang yang sudah ratusan tahun pun, sekarang malah dicari-cari buat koleksi, harganya tinggi lagi. Siapa tau sapu tangan ini pun jadi barang antik, dua hari kedepan.
Ternyata nggak perlu menunggu waktu selama dua hari untuk menjadikan sapu tangan yang berwarna hijau itu menjadi barang antik. Cukup menunggu setelah percakapan antara gua dan si dia selesai pun, gua langsung deklarasikan, bahwa sapu tangan ini adalah barang antik yang mahal harganya. Alasannya cuma satu, “Itu ada bekas cokelat di bibir kaka,” si dia mencoba memberi tau gua, bahwa ada bekas cokelat di bibir gua. Ya, memang sebelumnya gua dan si dia makan es cream cokelat, yang gua beli dari mini market, sebelum gua mau menemui si dia.
“Sini coba, mana sapu tangan yang tadi!” si dia menanyakan sapu tangannya, dan setelah sapu tangan itu berpindah tangan dari gua ke si dia, dia mengusap bibir gua yang ada bekas cokelatnya dengan sapu tangan tadi. Gua hanya bisa terdiam, walau pun selama ini si dia suka ngomel-ngomel, ternyata si dia romantis juga. Hahaha… Itulah alasannya, mengapa sapu tangan hijau ini menjadi barang antik buat gua.

Monday, 18 August 2014

DUNIA LAIN



ITU KELEBIHANNYA, BUKAN KEKURANGANNYA

Satu bulan sudah liburan panjang akhir semester berlalu, sekarang saatnya memulai hidup baru dengan semester baru. Mungkin juga dengan mantan baru, atau mungkin bisa juga dengan gebetan baru, atau bahkan dengan pacar baru. Seperti yang sedang gua alami. Gua memulai perjuangan semester baru ini dengan pacar baru. Ini pacar baru gua, namanya Sandi Mustika (hai cantik… hehehe). Dia adalah mahasiswa semester empat yang beranjak ke semester lima. Dia satu kampus dengan gua, namun beda jurusan. Orang-orangan sering memanggilnya “Mamah”, gua juga nggak tau kenapa si dia dipanggil mamah. Mungkin karena…. Karena… apa ya!?
Mendingan kita skip saja dech, karena kalau saja dia tahu, bisa-bisa dari pagi sampe sore gua habis-habisan diomelin. Asal kalian tahu saja, si dia suka banget ngomel-ngomel. Apalagi kalau dia lagi kesel, wah sudah dech, gua nggak akan mengganggunya. Karena bisa-bisa gua yang kena semprot, spion motor yang nggak tahu apa-apa saja dia semprot. Dia tuh kaya macan yang diganggu tidurnya, kalau lagi kesel malah diganggu-ganggu. Jadi gua hanya bisa diam beribu-ribu kata. Kalau dianalogikan sih, mungkin gua kaya manekin yang ada di toko-toko baju gitu. Mau digimanain juga tetep diam, kecuali sama penjaga tokonya dipindahkan, pasti dia ikut si penjaga toko yang memindahkannya tadi, so sweet ya… hehehe
Oh iya, gua lupa. Ini gua, nama gua Casman Arfian, gua sekarang adalah mahasiswa tingkat akhir salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Makhluk-makhluk sering memanggil gua dengan panggilan “Men”. Tapi, si dia memanggil gua dengan panggilan “Kaka” (folback dong kaka… haha), pasti kalian menyangka gua memanggil si dia dengan panggilan “Adik”? Nggak lah, nanti disangka kakak-adik lagi, kita kan pasangan yang selalu bikin kesel. Hehe…
Ada yang gua nggak ngerti disini, kalau kebanyakan pasangan di seluruh Indonesia itu memuji-muji dan membanggakan setiap pasangannya, ini adalah pasangan kebalikan dari pasangan-pasangan yang ada. Si dia hobinya ngejek gua, parah banget kan? Tapi itu juga karena gua duluan yang suka ngeselinnya. Hahaha… Kita berdua itu sangat jarang mengagumi satu sama lainnya, yang ada malah saling ngeselin. Tapi gua nggak ambil pusing, mungkin ini adalah jalan buat dia menyampaikan sayangnya (cie.. cie..). Gua juga sebenarnya begitu, walau pun gua sering ngeselin, tapi gua sayang sama dia. Kalau masalah suka ngomel-ngomel, itu adalah nilai lebihnya buat gua. Dengan kelebihan ngomel-ngomelnya, gua bisa nulis cerita ini, thanks baby…
Karena gua adalah salah satu orang yang percaya, bahwa setiap pasangan itu nggak ada kekurangannya. Semua yang ada padanya adalah kelebihannya buat gua, termasuk ngomel-ngomel. Kenapa gua sebut itu adalah kelebihannya? Karena dia adalah ciptaan yang Maha Sempurna. Mungkin buat orang lain itu adalah kekurangannya. “Dia suka ngomel-ngomel nggak karuan,” kata orang-orang (mungkin itu juga). Tapi buat gua nggak, karena semua yang ada padanya adalah kelebihannya. (tapi setelah baca ini jangan semakin menjadi-jadi ya…)
Gua hanya berpesan sama pasangan-pasangan di seluruh Indonesia, dari sabang sampai merauke. Atau bahkan, pasangan yang ada di seluruh dunia dan akhirat (karena blog gua ini go akhirat, bukan go international lagi). Simak baik-baik ya, pasangan kita itu nggak ada kekurangannya. Semua yang ada pada dirinya, adalah kelebihannya buat kita. Karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna, makanya nggak bisa kita menyebut itu adalah kekurangannya.
Gua sayang dia, maka darinya, yang ada pada dirinya adalah kelebihannya buat gua. Seperti kata orang-orang, cintai pekerjaan itu, maka kita akan dimudahkan dalam pekerjaan tersebut. Ini juga sama saja, sama seperti mencintai pekerjaan yang sedang kita kerjakan. Walau pun berat, tapi tetap bertahan dan melakukannya kan? (cie.. cie.. pesan moral). Semoga kita semakin sayang dengan pasangan kita. Semoga!

Ini cerita tentang gua dan pasangan gua (hai… lagi apa? BBM dong. hehe), sampai disini dulu ya. Nanti gua sambung lagi. Soalnya si dia nge-BBM. See you…